vano clicked the shutter, fort rotterdam.

Cerita tiga babak di kota Makassar tanggal 2 November 2026.

Cerita pertama. Kamu dengan setelan jaket ojek onlinemu mengambil sudut paling sepi di deretan pertokoan yang belum buka, lalu kamu angkat dua lenganmu sambil memegang hp yang berusaha kamu sejajarkan dengan wajahmu. Kamu harus berswafoto agar akunmu tetap menjadi prioritas aplikator dalam memberikan orderan penumpang. Pagi ini kamu terlihat bersemangat bekerja. Kira-kira seperti itulah kamu memulai hari-hari mu di kota yang sibuk ini.

Cerita kedua. Mungkin hanya kamu tukang becak yang tersisa di kota ini, becakmu sudah tidak terarawat lagi. Tidak lagi ada atap yang tersisa untuk melindungi penumpangmu dari teriknya matahari makassar, sedangkan kamu memakai topi. Kamu hanya duduk memeluk kedua lututmu di bangku penumpang di pinggiran jalan, sekali ada orang lewat kamu tidak menawarkan diri. Matamu hanya tertuju pada rangkaian kendaraan yang lalu lalang di jalanan. Pikiranmu tidak ada yang bisa menebak, apakah meratapi nasib kemajuan yang meminggirkan nasibmu atau kembali ke masa pengemudi becak dicari para penumpangnya.

Cerita ketiga. Kamu adalah perempuan renta yang berjalan hampir ke badan jalan padahal trotoar jalanan sepi. Berjalan cepat-cepat dengan tubuh bungkuk, kamu masih terlihat gesit di usia renta. Dengan setelan jas dan rok panjang, kamu berjalan lurus sampai tidak terlihat. Di kota yang sudah kotor dengan polusi dan debu, kamu tidak lupa memakai masker.


Saat di bus transjakarta selepas pulang kerja, sudah jadi kebiasaan jika ada ruang sedikit yang memungkinan saya akan buka hape agar tidak bosan. Sebuah akun di aplikasi X @booknotbomb memposting ulang tweet-nya di tanggal 17 April 2024, "Kita semua adalah buruh. Istilah "karyawan" adalah warisan militerisme orde baru dan golongan karya, untuk mengikis militansi, memecahbelah kekuatan kelas buruh, dan melemahkan solidaritas kelas." Akun X ini menyadarkan saya sepertinya untuk menyambut hari buruh tanggal 1 Mei 2026, saya akan menceritakan kegiatan saya sebagai seorang buruh selama tanggal 30 April 2026.

Ada dua buruh yang pernah saya jumpai melalui bacaan, pertama Pinneberg seorang buruh dari Jerman bersama isteri dan bayi perempuannya, pernah dalam suatu babak kehidupannya dia bertengkar dengan isterinya perihal perkara uang beberapa lama selepas pernikahan, Lammchen (isteri Pinneberg), "Kita hanya akan hidup menggunakan gajimu. Kita bahkan sudah sepakat menabung, lalu ke mana perginya semua tabungan kita? Bahkan semua pemasukan ekstra kita sudah habis."
"Tapi, bagaimana bisa?" Pinneberg mulai termenung. "Kita sama sekali tidak hidup berfoya-foya."

Kedua adalah tokoh aku dalam novel Bukan Pasar Malam, yang mengayuh pedal sepeda di tengah teriknya matahari Jakarta ke rumah-rumah kawannya mencari hutang agar dapat pulang ke Blora menjenguk ayahnya yang sedang di rumah sakit.  Hutang! Presiden! Menteri! Para-paduka-tuan! Dan penyakit! Mobil! Keringat dan debu tahu kuda!---Hatiku berteriak.

Tanggal 30 April 2026, sekitar pukul 00.30 WIB, saya berbaring di atas kasur sambil scroll postingan instagram yang menampilkan seorang menteri mengklarifikasi potongan videonya yang dirujak oleh pengguna sosial media karena menyarankan perubahan posisi gerbong perempuan yang secara tidak langsung mengganti korban dengan laki-laki jika terjadi kecelakaan kereta api. Seharusnya kebanyakan orang paham bahwa menteri tersebut tidak berniat seperti itu namun pengguna sosial media sangat sensitif dengan komentar bodoh saat terjadi musibah/dukacita. Dalam kumpulan tulisan SGA di buku Affair, obrolan urban dia menulis, "Andaikan Anda diangkat jadi menteri. Meskipun Anda belum mulai bekerja, Anda sudah dianggap orang sukses. Jabatan Anda adalah sukses Anda, bahwa sebagai menteri Anda rada-rada bego, itu bukan persoalan besar. "Dia pernah jadi menteri" adalah ucapan yang menunjukkan bahwa jabatannya jauh lebih penting dari prestasi kerjanya."

Setelah bangun, saya perkirakan akan terlambat lagi. Namun, yang luput dari prediksi adalah saat sudah melangkah masuk lift dari lantai 11 kondisi sudah berdesakan, yang akan berlanjut sampai lantai paling bawah. Sambil berjalan ke halte bus transjakarta, saya mengirimkan pesan teks whatsapp kepada isteri menanyakan kabar mereka, si abang dan si adik yang beberapa hari ini sedang sakit. Sudah hampir pukul 09.00 biasanya para pekerja yang menggunakan bus transjakarta sudah berkurang, kebanyakan jam kerja kantoran di kita ini 09.00 s.d 17.00, namun hari ini benar-benar anomali walaupun memang saat menuju ke halte, jalanan masih basah sepertinya pagi tadi hujan sehingga orang-orang menunda berangkat kerja. Hujan di Jakarta tidak pernah se-romantis video/foto yang tersebar di sosial media bagi para pekerja, setiap hujan reda mungkin ribuan pekerja akan bergegas di waktu yang sama berangkat atau pulang kerja. Saat masuk halte, antrean sudah agak ramai tetapi biasanya cukup 1 atau 2 bus yang kamu lewatkan, maka bus selanjutnya akan mengangkutmu. 

Pagi ini saya harus melewatkan 3 bus umum dan 1 bus khusus wanita, akhirnya di bus ke 5 saya bisa berangkat, tentu saja dengan kondisi masih sangat berdesakan. Tidak ada hal yang paling bisa membunuh kebosanan di bus yang penuh sesak kecuali mendengarkan lagu timur di spotify dengan suara earphone full. Perjalanan tidak lama, hanya sekitar 15 menit karena jalurnya khusus bus transjakarta dan hanya berhenti di halte busway velbak. Sesampainya di halte busway csw, suasana masih sangat ramai. Para penumpang dengan sendirinya berbaris menuju tangga turun yang lebarnya hanya cukup untuk dua orang, jika ada yang turun tangga dengan langkah lambat karena sedang mengetik teks di hape, maka antrean akan tersendat yang itu sangat menjengkelkan bagi orang seperti saya yang sudah terlambat. Setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta yang sebagian besar saya habiskan dengan berjalan kaki, saya telah terbiasa berjalan cepat (kadang-kadang berlari sedikit jika melihat bus transjakarta akan tiba di halte). 

Akhirnya, saya tiba di halte terakhir terminal blok M dengan kondisi cuaca yang sangat panas, saya bisa merasakan keringat mengalir di punggung apalagi hari ini adalah hari kamis, ada aturan pakaian dinas mengharuskan blazer/jas warna bebas. Pemerintah di awal tahun sudah memperingatkan fenomena "Godzilla" El Nino yang melanda seluruh Indonesia termasuk Jakarta, fenomena yang akan menyebabkan lonjakan suhu dan tingkat radiasi UV sangat tinggi. Ingatan saya kembali ke masa lalu saat masih duduk di bangku universitas, hari itu cuaca Makassar sangat panas, salah seorang dosen yang mengajar menceritakan bahwa ketika dia menempuh pendidikan kuliah magister di Australia pada suatu musim panas, hanya mahasiswa Indonesia yang tetap berpakaian rapi (bercelana jeans panjang), sedangkan dosen dan mahasiswa lain bercelana pendek ke universitas, mereka menyesuaikan kondisi cuaca yang sangat panas. Setelah melihat dirinya tampil aneh, akhirnya dosen saya mengikuti gaya berpakaian di saat kondisi cuaca yang panas. Tetapi ini Indonesia.


 


Setelah semalam Jakarta diguyur  hujan, embun tebal menutupi kaca-kaca bus. Hiruk pikuk kendaraan lain tidak terlihat, seperti menyusuri kesunyian dalam kabut. Dalam bus disesaki orang dengan dunianya sendiri. Sesekali pengumuman pemberhentian memecah kesunyian. Setiap orang berangkat sendiri-sendiri namun sebagian besar turun di halte yang sama, halte di perkantoran. Di pintu halte pemberhentian, seorang petugas dengan seragam akan berdiri menyambut, mengingatkan agar memperhatikan langkah saat berpindah dari bus ke halte, di sebelahnya beberapa penumpang sudah bersiap menggantikan posisimu di bus. Langkah yang cepat menyusuri pintu-pintu keluar, selepas itu kamu harus berjinjit menghindari jalanan yang masih tersisa genangan air. Tenda dan gerobak penjual sarapan berjejer di pinggir jalan, menunggu para pekerja yang belum sempat sarapan untuk mampir. 

Sepasang earbud melantunkan lirik lagu Kunto Aji, "jangan salahkan barisan panjang di pusat kota kita bergegas mengejar mimpi-mimpi yang sama". Sepanjang perjalanan menuju kantor, saya melihat puluhan orang bergerak menuju tujuannya atau menjalakan aktivitasnya masing-masing. Saat hujan turun dengan deras, pengemudi bus tetap melaju sepanjang jalurnya, dalam bus tetap penuh sesak, petugas tetap berdiri di pintu, sebagian pekerja berdiam diri di halte tujuan menunggu hujan reda, sebagian pekerja bersikeras menerobos mengenakan jas hujan ataupun payung, melipat celana panjang hingga lutut sambil memeluk tas dengan tangan memegang sepatu. Pedagang makanan juga tetap buka walaupun harus berjibaku menghindarkan masakannya terpercik air. 

Setiap orang secara sadar melakukan aktivitasnya sebagai makhluk sosial dalam masyarakat, meskipun keterhubungan antarmanusia seringkali tidak tampak di permukaan. Apakah setiap pengorbanan dan usaha yang kita lakukan pada akhirnya ditujukan untuk menjaga harmoni dan tatanan dalam masyarakat atau lahir dari dorongan kasih sayang terhadap sesama manusia?  Menurut para ekonom, kasih sayang itu langka, jika kita menggerakkan masyarakat dengan kasih sayang, tidak akan ada lagi yang tersisa bagi kehidupan pribadi kita. Kita mesti mencadangkan kasih sayang dan tidak memboroskannya dengan mubazir. Maka dari itu para ekonom memikirkan apa yang dapat digunakan mengorganisir masyarakat, namun tersedia berlimpah ruah?

Adam Smith mengembangkan gagasan kepentingan diri sendiri (self-interest) sebagai dorongan dasar yang menggerakkan aktivitas ekonomi individu. Self-interest sebagai mekanisme yang menjelaskan bagaimana tindakan individu berkontribusi pada pencapaian kesejahteraan bersama, namun tujuan kehidupan manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia). Kebahagiaan secara konsisten tetap menjadi sesuatu yang populer, dan bahwa sebagian besar orang mengejarnya, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk orang-orang yang mereka cintai. Oleh karena itu, tema kebahagiaan selalu menjadi diskursus menarik untuk para pemikir filsafat. Pertanyaan sederhana yang sering muncul dipikiran, apakah saya bahagia atau bagaimana caranya saya bisa bahagia atau kenapa saya tidak bahagia, dan masih banyak lagi hal ihwal lainnya tentang kebahagiaan.

Apa yang membuat kehidupan manusia bahagia? Menurut Aristoteles, kebahagiaan dicapai melalui kebajikan yang diekspresikan dalam tindakan. Kita akan bahagia jika melibatkan diri secara positif dalam lingkungan manusiawi, yaitu keluarga, kampung, dan polis (kota). Pendekatan Aristoteles memang berangkat dari pertanyaan tentang bagaimana manusia dapat hidup dengan baik dan bahagia, namun kebahagiaan (eudaimonia) justru tidak ditemukan melalui fokus reflektif pada diri sendiri. Ketika manusia mengembangkan pengetahuan dan kapasitas sosialnya, ia menemukan dirinya dengan keluar dari dirinya, bukan dengan menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan yang dihitung. Karena itu, Aristoteles tidak akan sejalan dengan gagasan bahwa seseorang mengambil peran aktif dalam komunitas agar merasa lebih terpenuhi atau lebih bahagia, sebab pandangan semacam itu menjadikan keterlibatan sosial sebagai sarana bersyarat bagi kepentingan diri. Bagi Aristoteles, partisipasi yang autentik berarti terlibat langsung dalam persoalan, tantangan, dan harapan orang lain tanpa kalkulasi manfaat personal. Kebahagiaan muncul bukan sebagai hasil yang dikejar, melainkan sebagai konsekuensi dari hidup yang dijalani secara bajik, rasional, dan selaras dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial dan politis. 

Kita tidak perlu selalu merefleksikan setiap tindakan dalam kerangka “apa keuntungan yang akan saya peroleh?”, karena cara berpikir semacam itu merepresentasikan logika kapitalistik yang mereduksi tindakan manusia menjadi kalkulasi return. Dalam kapitalisme modern, hampir setiap aktivitas dipahami sebagai bentuk penanaman modal—baik uang, waktu, maupun relasi—yang dinilai sah sejauh menjanjikan imbal hasil di masa depan. Logika ini memang rasional dan diperlukan dalam ranah ekonomi, misalnya dalam pengelolaan perbankan atau investasi, tetapi menurut kerangka Aristoteles, logika tersebut tidak boleh diperluas ke seluruh dimensi kehidupan manusia. Manusia bukan semata-mata makhluk ekonomis yang bertindak berdasarkan keuntungan, melainkan makhluk rasional dan sosial yang menemukan kepenuhan hidup justru ketika bertindak tanpa kalkulasi manfaat personal. Ketika relasi, kepedulian, dan partisipasi sosial dipahami sebagai investasi yang menunggu imbal balik, kebajikan kehilangan maknanya, dan kebahagiaan gagal terwujud sebagai eudaimonia, yakni hidup yang baik itu sendiri, bukan hasil yang dinegosiasikan.

Klub sepakbola Manchester United meraih dua kemenangan di pertandingan liga Inggris melawan dua peringkat teratas, sangat mudah menemukan suporternnya yang meluapkan kebahagiaan di media sosial. Namun, kemenangan tidak berlangsung selamanya akan tiba saatnya mengalami kekalahan. Apakah suporter Manchester United tetap bahagia saat mengalami kekalahan atau merasakan sebaliknya? Saya pernah bertahun-tahun merasakan kebahagian itu dipengaruhi oleh pertandingan Manchester United, saya merasakan hari-hari menjadi sangat menyenangkan, semangat dalam beraktivitas, bahkan menerima orang-orang atau pembahasan yang menjengkalkan dengan hati gembira.

Setelah saya renungi sepertinya perasaan itu muncul berawal dari pengorbanan yang saya lakukan setiap ingin menyaksikan pertandingan liga yang nun jauh di tanah leluhur bangsa Anglo-Saxon. Kembali ke masa-masa kuliah di Makassar saat tinggal bersama abang, kami berdua seringkali berboncengan motor berkeliling di tengah malam bahkan hingga dini hari mencari warung kopi atau tempat persinggahan supir-supir antar kota lalu larut pada euforia pertandingan sepakbola. Saat itu platform streaming digital belum tersedia, begitu juga streaming ilegal. Sehingga setiap kekalahan memberikan perasaan menyakitkan, hidup yang menyenangkan menjadi tiba-tiba menderita. Akhirnya tanpa saya sadar, sebuah klub sepakbola menjadi faktor yang merubah perasaan dari bahagia menjadi menderita atau sebaliknya. 

Perasaan bahagia saya ternyata berasal dari hal eksternal yang tidak melekat pada diri saya. Mungkin kita sadar atau tidak saat ini kebanyakan dari manusia menggantungkan kebahagiaannya pada hal-hal eksternal. Saya sangat terganggu dengan kalimat, "uang bukan jaminan kebahagiaan, tetapi jika tidak punya uang pasti tidak bahagia". Dengan menganggap uang sebagai sumber kebahagiaan atau setidaknya mengobati penderitaan, umat manusia akan mengejar tujuan punya banyak uang selama menjalani kehidupannya. Pada akhirnya, manusia akan berakhir dalam penderitaan jika tidak mencapai tujuannya ataupun akan menyakiti sesama manusia asalkan tujuannya tercapai. Pemikiran tidak mengejar kebahagiaan dari hal-hal eksternal seperti punya harta, jabatan, terkenal, atau bahkan melalui klub sepakbola memang terdengar naif karena kerangka berpikir kita telah lama dibentuk oleh logika yang mengagungkan pencapaian lahiriah.

Boethius, Montaigne, Kierkegarard merupakan kelompok filsuf yang menganggap bahwa menggantungkan kebahagiaan pada keberuntungan eksternal adalah tindakan beresiko, dan bahwa manusia akan lebih baik jika menggali sumber daya batiniah mereka sendiri untuk menemukan ketenangan dan kepuasan hidup. Dalam ilmu psikolog terdapat istilah Hedonic Treadmil, kondisi ketika kita harus bekerja semakin keras hanya untuk memperoleh imbalan yang sama. Manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan yang sama, meskipun mengalami perubahan besar dalam hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Akibatnya, kita harus mengejar hal baru atau bekerja semakin keras hanya untuk merasakan kebahagiaan yang sama seperti sebelumnya. Konsep ini memperingatkan bahwa, jika kebahagiaan hanya digantungkan pada hasil eksternal (uang, status, dan pengakuan), maka manusia akan terjebak dalam pengejaran tanpa akhir.

Seorang penulis Michael Gracey dalam artikelnya yang berjudul Hedonic Treadmills in the Vale of Tears menutup tulisannya dengan sangat baik, kira-kira seperti ini, "saya akan mendorong anak-anak saya untuk menikmati antusiasme mereka, sembari tetap waspada pada hasrat-hasrat yang dapat menggoyahkan keseimbangan ata menjerumuskan mereka ke dalam Hedonic Treadmil. Namun di sisi lain, jika mereka terlaly pasif, saya akan mengingatkan mereka agar tidak sekedar menunggu "penyelamatan" menuju hidup yang bahagia. Sebaliknya, apa yang mereka lakukan di dunia inilah yang membentuk siapa diri mereka.

dok. pementasan teater "suara-suara gelap (dari ruang dapur)
oleh kala teater, 19 Juli 2019.

Saya sedang menempuh kuliah magister di jurusan ilmu ekonomi, sebelum perkuliahan calon mahasiswa/ mahasiswi diminta untuk ikut kuliah matrikulasi. Setelah enam kali pembelajaran, seorang dosen pada mata kuliah makro memberikan ujian matrikulasi. Salah satu pertanyaannya. "Anggaplah jika seorang wanita menikah dengan majikannya. Setelah mereka menikah, isterinya juga mendukung seperti sebelumnya. Apakah pernikahan itu mempengaruhi GDP (Gross Domestic Product) ? Bagaimana pernikahan ini mempengaruhi GDP ? Jelaskan !"

Hal pertama yang terlintas di kepala saya adalah cerita drama-drama di televisi yang menampilkan sebuah kisah cinta antara majikan dan asisten rumah tangga, dengan adegan-adegan romantis tentu disertai dengan halang-rintang yang menjadi konflik drama namun berakhir bahagia. Kembali ke pertanyaan ujian, jawabannya adalah pernikahan antara seorang wanita dengan majikannya akan mempengaruhi GDP (Gross Domestic Product)  atau dalam bahasa Indonesia disebut Pendapatan Domestik Bruto (PDB)

PDB adalah sebuah metode yang digunakan oleh banyak negara untuk mengukur barang atau jasa yang di produksi di dalam suatu negera, tanpa peduli apakah barang tersebut diproduksi oleh perusahaan nasional atau asing, hasil pengukuran tersebut adalah sebuah angka yang seharusnya naik di masa baik atau turun di masa buruk. Dalam rumus ekonomi berikut :

PDB = konsumsi + investasi + belanja pemerintah + ekspor - impor

Rumusan PDB di atas tidak hanya menghitung jumlah barang atau jasa, tetapi menghitung nilai pasar - nya. Nilai pasar ini hanya bisa diukur melalui harga. Sehingga label harga merupakan sombol PDB yang paling utama. Apa yang tidak diberi harga, apa yang tidak melibatkan transaksi finansial formal yang didasari oleh uang, tidak masuk dalam hitungan, tak peduli betapa pentingnya hal tersebut seperti kebijaksanaan, kebaikan hati, keberanian, bahkan rasa cinta tanah air.

PDB merupakan ikon populer pertumbuhan ekonomi, yang sepanjang abad ke-20 terdapat asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi sma artinya dengan kemajuan: asumsi naiknya PDB berarti kehidupan pasti menjadi lebih baik. Sehingga negara-negara mengejar perubahan angka PDB menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Pada tanggal 05 Agustus 2025, Badan Pusat Statistik Indonesia merilis laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2025, yang saya kutip dari laman website BPS Indonesia  bahwa "ekonomi Indonesia triuwulan II-2025 terhadap triwulan II-2024 mengalami pertumbuhan 5,1 persen (y-on-y). Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan dari berbagai pihak yang menganggap bahwa angka tersebut tidak sejalan dengan realitas di masyarakat seperti  angka kelas menengah yang semakin turun, berita peningkatan PHK, dan pelemahan daya beli masyarakat.

Namun perlu kita ketahui bersama bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi naik tinggi, kita belum tentu merasa puas dan bahagia dengan kehidupan kita dibandingkan yang kita rasakan sebelumnya.

Semoga saja wanita yang menikahi majikannya diberkahi dengan kebahagian. Jasa rumah tangga yang diberikan oleh seorang pembantu rumah tangga yang diupah akan dihitung dalam metode perhitungan PDB pada unsur konsumsi namun tidak diberikan oleh seorang ibu rumah tangga. Perubahan status dari seorang yang pada awalnya adalah pekerja yang menerima upah dari majikannya (konsumsi jasa) termasuk dalam perhitungan PDB menjadi seorang ibu rumah tangga yang tetap mengerjakan pekerjaan domestik, namun karena tidak melibatkan transaksi finansil/uang sehingga layanan rumah tangga yang dilakukan dalam hubungan pernikahan dianggap sebagai produksi rumah tangga yang tidak dibayar.

Dalam sistem kapitalisme, hanya produksi pabrik yang dianggap sebagai aktivitas yang menciptakan nilai gina dan nilai tukar. Bahkan, pada era kapitalisme awaln, perempuan dipaksa berada di rumah untuk menciptakan dan merawat tenaga kerja tetapi dinilai tidak memiliki nilai dari sudut pandang ekonomi dan tidak dikategorikan sebagai kerja. Hal ini membuat perempuan tidak pernah mendapatkan upah dari hasil kerja perawatan atas tenaga kerja yang berupa keluarganya.

Kondisi ini yang membuat para perempuan kesulitan mendapatkan akses modal sehingga mengakibatkan patriarki tidak pernah padam.

Sudah waktunya masyarakat memahami bahwa perempuan/laki-laki yang melakukan pekerjaan rumah tangga atau merawat keluarga adalah seorang pekerja seperti halnya dengan para pekerja di kantor, di pabrik, di pasar, dan semua jenis pekerja,

Sumber referensi:
Fioramonti, Lorenzo, 2017. Problem Domestik Bruto, ed. ke-1. Terjemahan: Lita Soerjadinata. Marjin Kiri, Tangerang Selatan. 220 hal.

Jurnal Perempuan vol.28 N0.3, Desember 2023.

Website Badan Pusat Statistik https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/08/05/2455/ekonomi-indonesia-triwulan-ii-2025-tumbuh-4-04-persen--q-to-q---5-12-persen--y-on-y---semester-i-2025-tumbuh-4-99-persen--c-to-c--.html




Bagian Pertama :
Sebelum wabah coronavirus, tidak ada satupun rapat yang saya hadiri dengan virtual semua dilakukan tatap muka di ruang rapat. Hampir tidak memungkinkan membawa pekerjaan saat rapat karena hanya pegawai tertentu yang memiliki laptop, saya bekerja di depan komputer, semua dokumen pekerjaan ada di sana. Jika saya membawa komputer berpindah ke ruang rapat tentu saja merepotkan saya, dedikasi terhadap pekerjaan tidak perlu terlalu berlebihan. Maka, demi menjaga keseimbangan antara pekerjaan dengan rapat, setiap karyawan berbagi peran, dan rapat tidak serutin pekerjaan harian. Mereka yang menghadiri rapat tatap muka tentu saja memberikan semua perhatiannya pada pembahasan penyebab rapat tersebut dilangsungkan. 
Kenormalan tersebut berubah saat wabah coronavirus memaksa orang-orang harus hidup dalam keterbatasan berinteraksi dengan manusia lain untuk menekan penyebaran demi menimalkan jumlah kematian hingga manusia menemukan obat/penangkal agar melewatinya. Namun, jika manusia berlindung di rumah masing-masing secara penuh tanpa berinteraksi dengan manusia lain, selain akan menyalahi kodrat manusia sebagai makhluk sosial, yang terpenting ekonomi tidak akan menjalankan fungsinya. Kemungkinan kematian karena kegagalan ekonomi akan lebih besar dibandingkan kematian karena terjangkit coronavirus.
Manusia harus tetap bekerja, perekonomian harus berputar walaupun dalam keterbatasan, mendorong kemajuan teknologi hingga terintegrasi dalam kehidupan manusia. Saya teringat dengan bacaan yang membahas tentang manusia yang bermimipi dengan kemajuan teknologi, robot-robot akan menggantikan pekerjaan, manusia akan hidup dengan menikmati hal-hal yang disukai di dunia. Saat manusia menemukan surel (surat elektronik), manusia berpikir akan punya waktu bersantai jika tidak ada lagi waktu yang terbuang karena menunggu surat. Para pekerja jasa pengantar surat sudah tidak relevan dengan dunia kerja, mereka digantikan dengan jaringan tak kasat mata yang saling terhubung. Penemuan surel tidak membuat manusia bisa bersantai namun semakin sibuk, waktu menunggu surat digantikan dengan mengerjakan surat yang jumlahnya berkali-kali lipat dari sebelumnya.
Begitu halnya saat wabah coronavirus, teknologi mendorong para pekerja dapat bertemu membahas pekerjaan dengan virtual. Pada awalnya, saya cukup menyukainya apalagi saat bisa berinteraksi dengan orang lain di saat sudah beberapa bulan terkurung dalam kamar kosan karena larangan keluar rumah oleh pemerintah. Seperti halnya dengan proses pengiriman surat, rapat tatap muka langsung tentu menyita waktu kerja bukan hanya saat rapat tetapi juga perjalanan menuju ruang rapat. Dengan adanya pilihan rapat virtual, waktu akan lebih efisien.
Kenormalan baru terbentuk pasca wabah coronavirus, setiap pekerja hampir pasti diberikan laptop menggantikan komputer. Para pekerja bisa bekerja di mana saja, di ruang kerja, di kantin, di rumah, di ruang rapat, asalkan laptop punya daya dan sambungan internet dari ponsel. 
Walaupun teknologi sudah sangat maju, namun para penemu belum bisa membuat teknologi mesin waktu Doraemon agar manusia bisa kembali ke masa lalu mengkoreksi kekeliruan yang penah kita buat. Ketiadaan teknologi tersebut, membuat manusia hanya bisa meratapi masa sekarang yang sedang kita jejaki. 
Saat ini seringkali kita dijejali dengan berbagai hal yang membuat kita tidak memusatkan perhatian pada satu hal, beberapa orang memiliki kemampuan mengerjakan beberapa hal secara bersamaan tetapi beberapa lainnya mungkin tidak bisa.
Saya juga tidak tahu, siapa yang saling mempengaruhi dalam hal menciptakan disrupsi yang membuat manusia "crisis of attention", apakah teknologi yang merubah perilaku manusia atau sebaliknya kita yang membuat teknologi bergerak ke arah yang menghilangkan kemampuan kita dalam memusatkan perhatian pada satu hal saja.

Lapak buku di sekitaran Rumah Sakit Harapan Kita

Jika kamu tiap hari berangkat dan pulang kerja berdesak-desakan dengan sesama kelas pekerja dalam bis angkutan umum, lalu sering ada  diantara mereka yang tidak tertib. Sebenarnya kamu ingin memaki tetapi karena paham bahwa hal itu tentu sia-sia, tidak akan membantu mempercepat kamu tiba di halte terakhir tujuanmu. Pilihan itu rasional karena telah dikompensasi oleh biaya yang paling minimum yang bisa kamu keluarkan tiap harinya.Pihak yang mungkin paling dapat disalahkan jika angkutan umum di daerahmu bobrok tentu saja pemerintahannya, tetapi keluhanmu bersama pekerja lainnya tidak akan terdengar kalaupun terdengar sepertinya tidak akan banyak perubahan berarti karena mereka tentu punya banyak alasan yang dapat diterima akal sehatmu.

Di dunia ini telah tumbuh-kembang kesadaran di masyarakat bahwa semakin kecil gaji yang kamu peroleh semakin buruk kamu akan diperlakukan. Di sinilah terlihat kerdilnya manusia menilai manusia lain bukan melalui nilai-nilai internal dalam dirinya. Namun, menjadi orang yang punya banyak uang daripada orang lain bukanlah nasib buruk. Mengutip The Korean Herald pada Sabtu (11/1/2025), penelitian yang dipimpin oleh professor Yoon Suk-joon dari Fakultas Kedokteran Universitas Korea. Hasil analisa data asuransi nasional pada tahun 2020 menunjukkan bahwa mereka yang berada dalam kelompok pendapatan tertinggi secara rata-rata memiliki harapan hidup sehat lebih lama sebesar 8,66 tahun dibandingkan mereka yang ada pada kelompok berpendapatan rendah, masing-masing ada pada usia 74,88 tahun dan 66,22 tahun.

Bumi sudah ada sejak puluhan juta tahun lalu, kita manusia lalu terlahir, hidup dalam waktu singkat, walaupun berbagai cara dilakukan untuk menunda-nunda kematian, setelah kematian tiba, kemudian kehidupan di bumi tetap berlangsung seperti sebelum keberadaan kita. Dalam waktu singkat inilah kebanyakan dari kita berhasrat ingin meraih kebahagian, jauh dari penderitaan. Kebahagiaan seringkali disederhanakan menjadi kesenangan semata, sumber kesenangan manusia selain dari kesenangan yang bisa langsung dirasakan oleh fisik manusia sendiri melainkan juga kesenangan pikiran. Manusia ingin jauh dari rasa sakit, kenikmatan tubuh, pakaian, atau tempat berlindung dari panas terik matahari dan dinginnya malam hari. Namun, manusia lalu memberikan ruang dalam pikirannya tentang pendapat orang lain mengenai dirinya. 

Bersambung.... 

Sumber informasi: artikel https://www.koreaherald.com/article/10383056 ; buku berjudul Tentang Pesimisme, Schopenhaur terbitan Antinomi.